Makalah Motivasi Bagi pembelajaran


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Seiring saat ini kegiatan memberikan motivasi dalam upaya meningkatkan semangat belajar peserta didik berikit pengertian definisi dasar kata motivasi dan belajar, Jadi apa itu motivasi belajar?
Motivasi adalah sebuah proses yang menjelaskan insensitas arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya, di dalam motivasi ada Tiga elemen utama yaitu adalah intensitas, arah, dan ketekunan. Sedangkan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan motivasi belajar?
2.      Sebutkan macam-macam jenis motivasi?
3.      Apa fungsi motivasi dalam belajar?
4.      Bagaimana strategi menumbuhkan motivasi dalam belajar?
5.      Apa teori motivasi belajar?
6.      Bagaimana cara menerapkan pedoman teori-teori motivasi belajar?

C.    Tujuan Masalah
Untuk mengetahui fungsi motivasi dalam pembelajaran dan bagaimana strategi untuk menumbuhkan motivasi dalam pembelajaran peserta didik agar tercapai pembelajaran yang efektif.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi belajar pada dasarnya merupakan bagian dari motivasi secara umum. Dalam kegiatan belajar mengajar dikenal adanya motivasi belajar yaitu motivasi yang ada dalam dunia pendidikan atau motivasi yang dimiliki peserta didik (siswa).
Motivasi belajar ialah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan. Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah atau semangat dalam belajar, sehingga siswa yang bermotivasi kuat memiliki energi banyak untuk melakukan kegiatan belajar”.
B.     Jenis-Jenis Motivasi
Secara umum, motivasi dibedakan menjadi dua jenis yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik..
a.         Motivasi Intrinsik
Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Guru dapat menggunakan beberapa strategi dalam pembelajaran agar siswa termotivasi secara instrinsik, yaitu:
1)      Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa sehingga tujuan belajar menjadi tujuan siswa atau sama dengan tujuan siswa.
2)      Memberi kebebasan kepada siswa untuk memperluas kegiatan dan materi belajar selama masih dalam batas-batas daerah belajar yang pokok.
3)      Memberikan waktu ekstra yang cukup banyak bagi siswa untuk mengembangkan tugas-tugas mereka dan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang ada di sekolah.
4)      Kadang kala memberikan penghargaan atas pekerjaan siswa.
5)      Meminta siswa-siswanya untuk menjelaskan dan membacakan tugas-tugas yang mereka buat, kalau mereka ingin melakukannya. Hal ini perlu dilakukan terutama sekali terhadap tugas yang bukan merupakan tugas pokok yang harus dikerjakan oleh siswa, kalau tugas dikerjakan dengan baik.
b.    Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik berbeda dari motivasi instrinsik karena dalam motivasi ini keinginan siswa untuk belajar sangat dipengaruhi oleh adanya dorongan atau rangsangan dari luar. Dorongan dari luar tersebut dapat berupa pujian, celaan, hadiah, hukuman dan teguran dari guru. Menurut Sardiman (2006) motivasi ekstrinsik adalah “motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya rangsangan atau dorongan dari luar”. Bagian yang terpenting dari motivasi ini bukanlah tujuan belajar untuk mengetahui sesuatu tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik, sehingga mendapatkan hadiah.
Motivasi instrinsik juga diperlukan dalam kegiatan belajar karena tidak semua siswa memiliki motivasi yang kuat dari dalam dirinya untuk belajar. Guru sangat berperan dalam rangka menumbuhkan motivasi ekstrinsik. Pemberian motivasi ekstrinsik harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa, karena jika siswa diberikan motivasi ekstrinsik secara berlebihan maka motivasi instrinsik yang sudah ada dalam diri siswa akan hilang. Motivasi ekstrinsik dapat membangkitkan motivasi instrinsik, sehingga motivasi ekstrinsik sangat diperlukan dalam pembelajaran.
Dimyanti (2006) mengemukakan bahwa motivasi ekstrinsik dapat berubah menjadi motivasi instrinsik jika siswa menyadari pentingnya belajar. Motivasi ekstrinsik juga sangat diperlukan oleh siswa dalam pembelajaran karena adanya kemungkianan perubahan keadaan siswa dan juga faktor lain seperti kurang meneriknya proses belajar mengajar bagi siswa. Motivasi ekstrinsik dan instrinsik harus saling menambah dan memperkuat sehingga individu dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
C.    Fungsi Motivasi dalam Belajar
Motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan sekaligus sebagai penggerak perilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Guru merupakan faktor yang penting untuk mengusahakan terlaksananya fungsi-fungsi tersebut dengan cara memenuhi kebutuhan siswa. Kebutuhan-kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan keselamatan dan rasa aman, kebutuhan untuk diterima dan dicintai, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan untuk merealisasikan diri.
v  Adapun fungsi dari motivasi dalam pembelajaran diantaranya:
a.       Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan.
Tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya belajar. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
b.      Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
c.       Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
D.    Strategi Menumbuhkan Motivasi dalam Belajar
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
a.       Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
b.      Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
c.       Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
d.      Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
e.       Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
f.       Memberikan perhatian maksimal
Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
g.      Membantu kesulitan belajar
Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok.
h.      Menggunakan metode yang bervariasi
i.        Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

v  Dalam hal proses belajar mengajar ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru ketika memotivasi siswanya dalam hal belajar yang meliputi:
a).      Menumbuhkan kegairahan dan kesediaan untuk belajar.
Seseorang guru yang berpengalaman, tidak berusaha mendorong muridnya untuk mempelajari muridnya sesuatu di luar kemampuannya, dan ia juga tidak akan memompakan ke otaknya pengetahuan yang tidak sejalan dengan pengalaman yang lalu. Guru juga tidak akan menggunakan metode yang tidak sesuai dengan mereka.
Faktor yang mempengaruhi dalam kegairahan dan kesediaan anak didik adalah sebagai berikut:
1.      Kematangan
2.      Pengalaman yang lalu
3.      Kesesuaian materi pelajaran dengan metode pengajaran
4.      Kedaan kejiwaan anak didik dan kadar penyesuaian dirinya denga kedaan lingkungan. (Zakiyah Djarajat, 1992, hlm. 23)
Dengan demikian dalam proses belajar mengajar guru harus memperhatikan kedaan murid, tingkat pertumbuhan dan perbedaan perorangan yang terdapat diantara mereka.
b).     Membangkitkan minat murid
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan baik, karena tidak ada daya tarik baginya sehingga siswa malas belajar karena tidak memperoleh kepuasaan dari pelajaran itu. Jika terdapat siswa kurang minat dalam belajar, guru harus dapat mengusahakan agar sisiwa mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan, serta hal-hal yang berhubungan dengan cita-cita serta kaitanya dengan bahan pelajaran yang dipelajari itu.
Dr. Slameto mengatakan bahwa minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan yang diminati. Kegiatan yang diminati seseoarng diperhatikan terus menerus dan disertai dengan rasa senang (Slameto, 2007, hlm. 59).
Dalam proses belajar mengajar guru harus dapat membangkitkan murid terhadap pelajaran, karena dalam hal itu, tidak dilakukan maka akan timbul beberapa permasalahan diantaranya: murid menjadi malas belajar dan kemungkinan dia akan meremehkan bahkan akan mengabaikan pelajaran. (Zakiyah Djarajat, 1982, hlm. 26). Dengan demikian jelaslah betapa pentingnya membangkitkan minat anak-anak didik dalam proses mengajar bagi guru.
c).     Mengatur proses belajar mengajar
Sebenarnya mengatur proses belajar mengajar akan mempermudah mengatur anak didik dalam mempelajari, mengusai dan mendapat menfaat dari pengaturan tersebut serta menyimpangnya dalam waktu yang cukup lama atau dengan kata lain didalam proses belajar mengajar perlu adanya perencanaan yang berarti untuk mencapai suatu tujuan pengajaran.
Beberapa pernyataan diatas sesuai dengan pernyataan Oemar Humalik Yang menyatakan bahwa: “Rencana belajar yang baik membantu untuk mengontrol, menilai dan memeriksa sampai diamana tujuan belajar itu dapat dicapai secara baik. (Oemar Humalik, 1983, hlm.32).
d).   Menumbuhkan hubungan manusiawi dalam proses belajar mengajar.
Kegairahan anak didik atau penolakan terhadap suatu pengajaran, kemauan untuk pergi kesekolah atau lari dari sekolah, sering kali disebabkan oleh adanya hubungan yang kurang harmonis antara siswa dengan gurunya atau karena ada maslah dengan temannya, sebaiknya guru harus bias menjaga perasaan anak didiknya, sayang kepada mereka, memperhatikan kepentingan mereka, menyelesaikan kepentingan mereka, menyelsaikan persoalan mereka dan berusaha untuk mengahadapi semua keadaan yang membawa anak didik kepada pertumbuhan dalam arah yang sehat.
E.     Teori –Teori Motivasi
1.      Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu:
a.       kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex.
b.      kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual.
c.       kebutuhan akan kasih sayang (love needs)
d.      kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status
e.       aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual, dan bahkan juga spiritual.
Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia makin mendalam penyempurnaan dan “koreksi” dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :
a.       Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang.
b.      Pemuasaan berbagai kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.
c.       Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.
Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih bersifat aplikatif.
2.      Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan: “Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”
v  Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu :
a.       sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat.
b.      menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya.
c.       menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.
3.      Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG)
Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu: E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness (kebutuhan untuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan).
Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting. Pertama, secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut Maslow.
 Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasannya secara serentak. Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa:
a.       Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya.
b.      Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan.
c.       Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.
Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.
4.      Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)
Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.
Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.
Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik
5.      Teori Keadilan
Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu:
a.       Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar.
b.      Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu:
1)      Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya.
2)       Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri.
3)      Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis.
4)      Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai.
Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini berarti bahwa para pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus selalu waspada jangan sampai persepsi ketidakadilan timbul, apalagi meluas di kalangan para pegawai. Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negatif bagi organisasi, seperti ketidakpuasan, tingkat kemangkiran yang tinggi, sering terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas.
F.     Pedoman Menerapkan Teori-Teori Motivasi
Dibawah ini akan dijelaskan tentang pedoman menerapkan teori-teori motivasi didalam kelas.
1.     Yakinkan bahwa siswa-siswa mempunyai kesempatan untuk memenuhi kebutuhan mereka menjadi anggota salah satu kelompok dan mempunyai rasa memiliki secara memuaskan.
a.       Berikan kesempatan beberapa jam pada siswa untuk berinteraksi dengan kelompoknya sebagai suatu reinforcement atas prestasi akademik dan tingkah laku sosial mereka.
b.      Pertimbangan pembentukan kelompok untuk bekerja sama dalam mengerjakan beberapa tugas.
2.     Ciptakan kelas menjadi suatu tempat yang menyenangkan dan aman.
Contoh :
a.       Pilihlah tugas untuk meyakinkan bahwa setiap siswa dapat mencapai prestasi, bukan kegagalan.
b.      Jangan membiarkan seorang siswa diperlakukan kasar atau dikritik di depan umum oleh teman-temanya.
3.     Kenalilah bahwa siswa-siswa yang datang ke sekolah adalah siswa-siswa dengan kebutuhan dasar yang berbeda karena pengalaman-pengalaman yang lalu.
a.       Siswa-siswa yang sangat berambisi untuk mencapai prestasi mungkin membutuhkan bantuan untuk bisa rileks.
b.      Siswa-siswa yang memiliki kebutuhan untuk menghindari kegagalan mungkin membutuhkan bantuan bagaimana belajar sendiri dengan baik.
4.     Bantulah siswa mengambil tanggungjawab yang tepat atas sukses dan kegagalan mereka.
Contoh:
a.       Model mengkritik dirinya sendiri.
b.      Mengundang nara sumber yang bersedia untuk berbicara tentang sukses dan kegagalanya.
5.      Mendorong siswa untuk melihat hubungan antara usaha-usaha mereka sendiri dan prestasi-prestasinya.
a.       Diskusikanlah alasan-alasan mengapa kita sukses dan mengapa kita gagal.
b.      Hindari cepat-cepat menilai atau menghakimi karena alasan-alasan bagi sukses atau gagalnya siswa.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dapat ditarik kesimpulan bahwa definisi dari motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar siswa (dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu) yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat. Secara garis besar motivasi dalam proses pembelajaran menempati posisi yang penting. Tanpa motivasi yang kuat seseorang tidak akan mencapai hasil yang memuaskan dalam pembelajarannya. Maka, untuk menumbuhkan motivasi itu harus dimulai dari dalam diri sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Asmani,Jamal, Ma’mur. 2012. Tips Menjadi Guru Inspiratif. Yogyakarta;Divapress. Purwanto, Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: Posda karya.
Nur kholidah, Enik. 2011. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: FKIP UPY













0 Response to "Makalah Motivasi Bagi pembelajaran "

Posting Komentar