Makalah Motivasi Bagi pembelajaran
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Seiring
saat ini kegiatan memberikan motivasi dalam upaya meningkatkan semangat belajar
peserta didik berikit pengertian definisi dasar kata motivasi dan belajar, Jadi
apa itu motivasi belajar?
Motivasi adalah sebuah proses yang menjelaskan
insensitas arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya, di
dalam motivasi ada Tiga elemen utama yaitu adalah intensitas, arah, dan
ketekunan. Sedangkan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil
pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari
kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari
diri seseorang.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan motivasi belajar?
2.
Sebutkan macam-macam jenis
motivasi?
3.
Apa fungsi motivasi dalam belajar?
4.
Bagaimana strategi menumbuhkan
motivasi dalam belajar?
5.
Apa teori motivasi belajar?
6.
Bagaimana cara menerapkan pedoman
teori-teori motivasi belajar?
C. Tujuan Masalah
Untuk mengetahui fungsi motivasi dalam pembelajaran dan bagaimana strategi
untuk menumbuhkan motivasi dalam pembelajaran peserta didik agar tercapai
pembelajaran yang efektif.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi
belajar pada dasarnya merupakan bagian dari motivasi secara umum. Dalam
kegiatan belajar mengajar dikenal adanya motivasi belajar yaitu motivasi yang
ada dalam dunia pendidikan atau motivasi yang dimiliki peserta didik (siswa).
Motivasi
belajar ialah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang
menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan
memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan. Motivasi belajar memegang peranan
penting dalam memberikan gairah atau semangat dalam belajar, sehingga siswa
yang bermotivasi kuat memiliki energi banyak untuk melakukan kegiatan belajar”.
B.
Jenis-Jenis Motivasi
Secara
umum, motivasi dibedakan menjadi dua jenis yaitu motivasi instrinsik dan
motivasi ekstrinsik..
a.
Motivasi Intrinsik
Jenis motivasi ini timbul dari dalam
diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar
kemauan sendiri. Guru dapat menggunakan beberapa
strategi dalam pembelajaran agar siswa termotivasi secara instrinsik, yaitu:
1)
Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa sehingga
tujuan belajar menjadi tujuan siswa atau sama dengan tujuan siswa.
2)
Memberi kebebasan kepada siswa untuk memperluas kegiatan dan
materi belajar selama masih dalam batas-batas daerah belajar yang pokok.
3)
Memberikan waktu ekstra yang cukup banyak bagi siswa untuk
mengembangkan tugas-tugas mereka dan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang
ada di sekolah.
4)
Kadang kala memberikan penghargaan atas pekerjaan siswa.
5)
Meminta siswa-siswanya untuk menjelaskan dan membacakan
tugas-tugas yang mereka buat, kalau mereka ingin melakukannya. Hal ini perlu
dilakukan terutama sekali terhadap tugas yang bukan merupakan tugas pokok yang
harus dikerjakan oleh siswa, kalau tugas dikerjakan dengan baik.
b. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi
ekstrinsik berbeda dari motivasi instrinsik karena dalam motivasi ini keinginan
siswa untuk belajar sangat dipengaruhi oleh adanya dorongan atau rangsangan
dari luar. Dorongan dari luar tersebut dapat berupa pujian, celaan, hadiah,
hukuman dan teguran dari guru. Menurut Sardiman (2006) motivasi ekstrinsik
adalah “motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya rangsangan atau
dorongan dari luar”. Bagian yang terpenting dari motivasi ini bukanlah tujuan
belajar untuk mengetahui sesuatu tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik,
sehingga mendapatkan hadiah.
Motivasi
instrinsik juga diperlukan dalam kegiatan belajar karena tidak semua siswa
memiliki motivasi yang kuat dari dalam dirinya untuk belajar. Guru sangat
berperan dalam rangka menumbuhkan motivasi ekstrinsik. Pemberian motivasi
ekstrinsik harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa, karena jika siswa
diberikan motivasi ekstrinsik secara berlebihan maka motivasi instrinsik yang sudah
ada dalam diri siswa akan hilang. Motivasi ekstrinsik dapat membangkitkan motivasi instrinsik,
sehingga motivasi ekstrinsik sangat diperlukan dalam pembelajaran.
Dimyanti
(2006) mengemukakan bahwa motivasi ekstrinsik dapat berubah menjadi motivasi instrinsik
jika siswa menyadari pentingnya belajar. Motivasi ekstrinsik juga sangat
diperlukan oleh siswa dalam pembelajaran karena adanya kemungkianan perubahan
keadaan siswa dan juga faktor lain seperti kurang meneriknya proses belajar
mengajar bagi siswa. Motivasi ekstrinsik dan instrinsik harus saling menambah
dan memperkuat sehingga individu dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
C. Fungsi Motivasi dalam Belajar
Motivasi berfungsi sebagai
pendorong, pengarah, dan sekaligus sebagai penggerak perilaku seseorang untuk
mencapai suatu tujuan. Guru merupakan faktor yang penting untuk mengusahakan
terlaksananya fungsi-fungsi tersebut dengan cara memenuhi kebutuhan siswa. Kebutuhan-kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan
fisiologis, kebutuhan akan keselamatan dan rasa aman, kebutuhan untuk diterima
dan dicintai, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan untuk merealisasikan
diri.
v Adapun
fungsi dari motivasi dalam pembelajaran diantaranya:
a.
Mendorong timbulnya tingkah laku
atau perbuatan.
Tanpa
motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya belajar. Motivasi dalam hal ini merupakan
motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
b.
Motivasi berfungsi sebagai pengarah,
artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
c.
Motivasi berfungsi sebagai
penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi
akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
D.
Strategi Menumbuhkan Motivasi
dalam Belajar
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru
untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
a. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru
menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada
siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi
dalam belajar.
b.
Hadiah
Berikan
hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk
bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan
termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
c.
Saingan/kompetisi
Guru
berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi
belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
d.
Pujian
Sudah
sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian.
Tentunya pujian yang bersifat membangun.
e.
Hukuman
Hukuman
diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar.
Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan
berusaha memacu motivasi belajarnya.
f.
Memberikan perhatian maksimal
Membangkitkan
dorongan kepada anak didik untuk belajar Strateginya adalah dengan memberikan
perhatian maksimal ke peserta didik.
g.
Membantu kesulitan belajar
Membantu
kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok.
h.
Menggunakan metode yang bervariasi
i.
Menggunakan media yang baik dan
sesuai dengan tujuan pembelajaran.
v
Dalam hal proses belajar mengajar
ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru ketika memotivasi siswanya
dalam hal belajar yang meliputi:
a).
Menumbuhkan kegairahan dan kesediaan
untuk belajar.
Seseorang guru yang berpengalaman, tidak berusaha
mendorong muridnya untuk mempelajari muridnya sesuatu di luar kemampuannya, dan
ia juga tidak akan memompakan ke otaknya pengetahuan yang tidak sejalan dengan
pengalaman yang lalu. Guru juga tidak akan menggunakan
metode yang tidak sesuai dengan mereka.
Faktor yang
mempengaruhi dalam kegairahan dan kesediaan anak didik adalah sebagai berikut:
1.
Kematangan
2.
Pengalaman yang lalu
3.
Kesesuaian materi pelajaran dengan
metode pengajaran
4.
Kedaan kejiwaan anak didik dan kadar
penyesuaian dirinya denga kedaan lingkungan. (Zakiyah Djarajat, 1992, hlm. 23)
Dengan demikian dalam proses belajar
mengajar guru harus memperhatikan kedaan murid, tingkat pertumbuhan dan
perbedaan perorangan yang terdapat diantara mereka.
b).
Membangkitkan minat murid
Minat besar pengaruhnya terhadap
belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat
siswa, siswa tidak akan belajar dengan baik, karena tidak ada daya tarik
baginya sehingga siswa malas belajar karena tidak memperoleh kepuasaan dari
pelajaran itu. Jika terdapat siswa kurang minat dalam belajar, guru
harus dapat mengusahakan agar sisiwa mempunyai minat yang lebih besar dengan
cara menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan, serta hal-hal
yang berhubungan dengan cita-cita serta kaitanya dengan bahan pelajaran yang dipelajari itu.
Dr. Slameto mengatakan bahwa minat adalah kecenderungan yang tetap untuk
memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan yang diminati. Kegiatan yang
diminati seseoarng diperhatikan terus menerus dan disertai dengan rasa senang
(Slameto, 2007, hlm. 59).
Dalam proses belajar mengajar
guru harus dapat membangkitkan murid terhadap pelajaran, karena dalam hal itu,
tidak dilakukan maka akan timbul beberapa permasalahan diantaranya: murid
menjadi malas belajar dan kemungkinan dia akan meremehkan bahkan akan
mengabaikan pelajaran. (Zakiyah Djarajat, 1982, hlm. 26). Dengan demikian jelaslah betapa pentingnya
membangkitkan minat anak-anak didik dalam proses mengajar bagi guru.
c).
Mengatur proses belajar mengajar
Sebenarnya mengatur proses
belajar mengajar akan mempermudah mengatur anak didik dalam mempelajari,
mengusai dan mendapat menfaat dari pengaturan tersebut serta menyimpangnya
dalam waktu yang cukup lama atau dengan kata lain didalam proses belajar
mengajar perlu adanya perencanaan yang berarti untuk mencapai suatu tujuan
pengajaran.
Beberapa pernyataan diatas sesuai
dengan pernyataan Oemar Humalik Yang menyatakan bahwa: “Rencana belajar yang baik
membantu untuk mengontrol, menilai dan memeriksa sampai diamana tujuan belajar
itu dapat dicapai secara baik. (Oemar Humalik, 1983, hlm.32).
d).
Menumbuhkan hubungan manusiawi
dalam proses belajar mengajar.
Kegairahan anak didik atau
penolakan terhadap suatu pengajaran, kemauan untuk pergi kesekolah atau lari
dari sekolah, sering kali disebabkan oleh adanya hubungan yang kurang harmonis
antara siswa dengan gurunya atau karena ada maslah dengan temannya, sebaiknya
guru harus bias menjaga perasaan anak didiknya, sayang kepada mereka,
memperhatikan kepentingan mereka, menyelesaikan kepentingan mereka,
menyelsaikan persoalan mereka dan berusaha untuk mengahadapi semua keadaan yang
membawa anak didik kepada pertumbuhan dalam arah yang sehat.
E. Teori –Teori Motivasi
1.
Teori
Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H.
Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat
atau hierarki kebutuhan, yaitu:
a.
kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa
lapar, haus, istirahat dan sex.
b.
kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik
semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual.
c.
kebutuhan akan kasih sayang (love needs)
d.
kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya
tercermin dalam berbagai simbol-simbol status
e.
aktualisasi diri (self actualization), dalam arti
tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat
dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan)
kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan
menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula
dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas
dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa
sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang
lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan
manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal,
mental, intelektual, dan bahkan
juga spiritual.
Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia
makin mendalam penyempurnaan dan
“koreksi” dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan
karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia
berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan
fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa
dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai
kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki.
Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :
a.
Kebutuhan yang satu saat sudah
terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang.
b.
Pemuasaan berbagai kebutuhan
tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif
menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.
c.
Berbagai kebutuhan tersebut tidak
akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana
seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.
Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat
teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi pengembangan
teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih
bersifat aplikatif.
2.
Teori
McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk
mencapai prestasi atau Need for
Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai
dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip
oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan: “Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit”. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi
obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat
mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi
kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri
sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan
kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”
v Menurut
McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers)
memiliki tiga ciri umum yaitu :
a.
sebuah preferensi untuk mengerjakan
tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat.
b.
menyukai situasi-situasi di mana
kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena
faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya.
c.
menginginkan umpan balik tentang
keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi
rendah.
3.
Teori
Clyton Alderfer (Teori “ERG)
Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga
istilah yaitu: E = Existence
(kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness
(kebutuhan untuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan
akan pertumbuhan).
Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak
dua hal penting. Pertama, secara konseptual terdapat persamaan antara teori
atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik
dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat
menurut konsep Maslow dan “Growth”
mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut Maslow.
Kedua, teori Alderfer menekankan
bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasannya secara
serentak. Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa:
a.
Makin tidak terpenuhinya suatu
kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya.
b.
Kuatnya keinginan memuaskan
kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah
telah dipuaskan.
c.
Sebaliknya, semakin sulit
memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk
memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.
Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat
pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang
dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara
lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.
4.
Teori
Herzberg (Teori Dua Faktor)
Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi
penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal
dengan “ Model Dua Faktor” dari
motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang
mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik,
yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan
faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari
luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.
Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional
antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan
bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan
faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang
dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan
seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh
para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi,
kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.
Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah
memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam
kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat
ekstrinsik
5.
Teori
Keadilan
Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia
terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi
kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang
pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan
dapat terjadi, yaitu:
a.
Seorang akan berusaha memperoleh
imbalan yang lebih besar.
b.
Mengurangi intensitas usaha yang
dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai
biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu:
1)
Harapannya tentang jumlah imbalan
yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti
pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya.
2)
Imbalan yang diterima oleh
orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif
sama dengan yang bersangkutan sendiri.
3)
Imbalan yang diterima oleh pegawai
lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis.
4)
Peraturan perundang-undangan yang
berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai.
Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini berarti bahwa para
pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus selalu waspada jangan sampai
persepsi ketidakadilan timbul, apalagi meluas di kalangan para pegawai. Apabila
sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negatif bagi organisasi,
seperti ketidakpuasan, tingkat kemangkiran yang tinggi, sering terjadinya
kecelakaan dalam penyelesaian tugas.
F.
Pedoman Menerapkan Teori-Teori Motivasi
Dibawah ini akan dijelaskan tentang pedoman menerapkan teori-teori motivasi
didalam kelas.
1. Yakinkan bahwa siswa-siswa mempunyai kesempatan untuk memenuhi kebutuhan
mereka menjadi anggota salah satu kelompok dan mempunyai rasa memiliki secara
memuaskan.
a.
Berikan kesempatan beberapa jam
pada siswa untuk berinteraksi dengan kelompoknya sebagai suatu reinforcement
atas prestasi akademik dan tingkah laku sosial mereka.
b.
Pertimbangan pembentukan kelompok
untuk bekerja sama dalam mengerjakan beberapa tugas.
2.
Ciptakan kelas menjadi suatu
tempat yang menyenangkan dan aman.
Contoh :
a.
Pilihlah tugas untuk meyakinkan
bahwa setiap siswa dapat mencapai prestasi, bukan kegagalan.
b.
Jangan membiarkan seorang siswa
diperlakukan kasar atau dikritik di depan umum oleh teman-temanya.
3.
Kenalilah bahwa siswa-siswa yang
datang ke sekolah adalah siswa-siswa dengan kebutuhan dasar yang berbeda karena
pengalaman-pengalaman yang lalu.
a.
Siswa-siswa yang sangat berambisi
untuk mencapai prestasi mungkin membutuhkan bantuan untuk bisa rileks.
b.
Siswa-siswa yang memiliki
kebutuhan untuk menghindari kegagalan mungkin membutuhkan bantuan bagaimana
belajar sendiri dengan baik.
4.
Bantulah siswa mengambil
tanggungjawab yang tepat atas sukses dan kegagalan mereka.
Contoh:
a.
Model mengkritik dirinya sendiri.
b.
Mengundang nara sumber yang
bersedia untuk berbicara tentang sukses dan kegagalanya.
5.
Mendorong siswa untuk melihat
hubungan antara usaha-usaha mereka sendiri dan prestasi-prestasinya.
a.
Diskusikanlah alasan-alasan
mengapa kita sukses dan mengapa kita gagal.
b.
Hindari cepat-cepat menilai atau
menghakimi karena alasan-alasan bagi sukses atau gagalnya siswa.
BAB III
PENUTUP
Dapat ditarik kesimpulan bahwa definisi dari
motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak baik dari
dalam diri maupun dari luar siswa (dengan menciptakan serangkaian usaha untuk
menyediakan kondisi-kondisi tertentu) yang menjamin kelangsungan dan memberikan
arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek
belajar itu dapat. Secara garis
besar motivasi dalam proses pembelajaran menempati posisi yang penting. Tanpa
motivasi yang kuat seseorang tidak akan mencapai hasil yang memuaskan dalam
pembelajarannya. Maka, untuk menumbuhkan motivasi itu harus dimulai dari dalam
diri sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
Asmani,Jamal, Ma’mur. 2012. Tips Menjadi Guru
Inspiratif. Yogyakarta;Divapress. Purwanto, Ngalim. 2007. Psikologi
Pendidikan. Bandung: Posda karya.
Nur kholidah,
Enik. 2011. Psikologi Pendidikan.
Yogyakarta: FKIP UPY
http://berkahujan.blogspot.com/2012/12/teori-dan-arti-motivasi-bagi-pengajaran.html/ (Diakses 02-11-2013/ pukul 13.00).
http://ahmadefendy.blogspot.com/2010/08/pengertian-motivasi-dan-pengaruhnya.html (Diakses 04-11-2013/ pukul 15.00).
http://zaifbio.wordpress.com/tag/motivasi-belajar-adalah/(Diakses
01-11-2013/ pukul 09.00)


0 Response to "Makalah Motivasi Bagi pembelajaran "
Posting Komentar